Tugas Kelompok 13
MAKALAH
Manajemen Pendidikan Islam Ala
Rasulullah
Diajukan untuk melengkapi tugas mata kuliah Manajemen Pendidikan Islam:
Dosen
Imam Wahyudi, M.Pd.I

Oleh
:
Lukman
Maulana 1311010341
Tri Kurnia Sari 1311010353
Lisa Mayasari 1311010377
FAKULTAS
TARBIYAH DAN KEGURUAN
INSTITUT
AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)
RADEN
INTAN LAMPUNG
2014
KATA
PENGANTAR
Puji
syukur kehadirat Allah yang maha kuasa karena atas rahmat dan karunianya,
sehingga kita dapat mengenal ilmu, pengetahuan, tak lupa kita haturkan shalawat
beserta salam atas junjungan alam Nabi besar kita yaitu nabi Muhammad saw.
Kemudian
kami, mengucapkan terimakasih kepada Ibu dan Bapak Guru/Dosen yang telah
mengajari kami ilmu yang sangat banyak, berkat ilmu itu juga kami mampu
menyelesaikan Makalah ini pada waktunya.
Dalam
penyusunan Makalah ini, kami menyadari sepenuhnya masih banyak kekurangan,
karena keterbatasan kemampuan dan pengetahuan yang kami milki. Namun demikian
kami sangat merasakan bahwa hal tersebut merupakan pendorong untuk dapat
memperbaiki dan melangkah lebih baik lagi.
Bandar
Lampung, 22
September 2014
Penyusun
DAFTAR
ISI
KATA PENGANTAR ..................................................................................
DAFTAR ISI .................................................................................................
BAB I PENDAHULUAN .............................................................................
A. Latar Belakang................................................................................
B. Rumusan Masalah...........................................................................
BAB II PEMBAHASAN...............................................................................
a. Rasulullah sebagai perencana pendidikan, Visi, Misi dan Tujuan Pendidikan Islam
b. Pemilihan Dar al Arqam.... ...........................................................................
DAFTAR ISI .................................................................................................
BAB I PENDAHULUAN .............................................................................
A. Latar Belakang................................................................................
B. Rumusan Masalah...........................................................................
BAB II PEMBAHASAN...............................................................................
a. Rasulullah sebagai perencana pendidikan, Visi, Misi dan Tujuan Pendidikan Islam
b. Pemilihan Dar al Arqam.... ...........................................................................
c. Perencanaan Hijrah ke Habasyah dan ke
Madinah.......................................
BAB III PENUTUP.......................................................................................
A. Kesimpulan.....................................................................................
A. Kesimpulan.....................................................................................
B. Saran.............................................................................................
DAFTAR PUSTAKA......................................................................................
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Rasulullah saw adalah teladan sejati dalam
segala aspek kehidupan, termasuk dalam pendidikan. Beliau adalah guru kita
dalam mengajarkan islam dan bagaimana meningkatkan kualitas sumber daya manusia.
masa-masa awal penyampaian risalah yang beliau bawa adalah saat yang sangat
krusial. Sebab. Beliaulah
pendidik pertama bagi sahabat-sahabat beliau dalam mengenal islam hingga islam
ada sampai saat ini.
Adapun perjuangan yang dicapai rasulullah dalam
mendakwahkan ajaran agama islam kepada penduduk zaman itu sangatlah tidak mudah
dan butuh strategi dan perjuangan yang luar biasa Lalu,
bagaimana sosok Rasulullah saw. yang sebenarnya ummi mampu mendidik generasi
awal dalam islam sampai mencapai masa keemasannya dan bisa bertahan sampai saat
ini? apa saja yang dicanangkan Rasulullah sebagai perencana pendidikan?
B.
Rumusan Masalah
a. Rasulullah sebagai perencana pendidikan?
b. Apakah yang dimaksud dengan pemilihan dar al arqam?
c.
Perencanaan
hijrah ke habasyah dan ke madinah?
BAB
II
PEMBAHASAN
PEMBAHASAN
a.
Rasulullah Sebagai Perencana Pendidikan, Visi, Misi, Dan
Tujuan Pendidikan Islam
Visi Pendidikan Islam Rasulullah Saw
Visi pendidikan Islam yang
diaplikasikan oleh Rasulullah Saw sesungguhnya melekat pada cita-cita dan
tujuan jangka panjang ajaran Islam itu sendiri, yaitu mewujudkan rahmat bagi
seluruh manusia, sesuai dengan firman Allah berikut ini:
“Dan tiadalah
kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.”
Tafsir
ayat tersebut, oleh Imam Al Maraghi ditafsirkan sebagai berikut: “Bahwa maksud
ayat yang artinya: Dan tiadalah kami mengutus kamu, melainkan untuk menjadi
rahmat bagi semesta alam, adalah bahwa tidaklah aku utus engkau Muhammad dengan
al Qur’an ini, serta berbagai perumpamaan dari ajaran agama dan hukum yang
menjadi dasar rujukan untuk mencapai bahagia dunia dan akhirat, melainkan agar
menjadi rahmat dan petunjuk bagi mereka dalam segala urusan kehidupan dunia dan
akhiratnya.”
Kedatangan
Rasulullah Saw adalah rahmat bagi umat manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan dan
makhluk-makhluk lainnya. Rasulullah membawa ajaran tentang persamaan, persatuan
dan kemuliaan umat manusia, bagaimana tata cara hubungan manusia sesama
manusia, hubungan sesama pemeluk agama, dan hubungan antara agama. Beliau juga
mengajarkan tentang persaudaraan, perdamaian, keadilan, tolong menolong, tata
hidup berkeluarga, bertetangga dan bermasyarakat dan lain sebagainya.
Rasulullah
Saw melarang manusia berbuat sewenang-wenang, sekalipun terhadap binatang.
Binatang diciptakan antara lain untuk dimafaatkan oleh manusia, bukan untuk
disakiti atau disengsarakan, dan bukan pula untuk diperjudi dan dipermainkan.
Rasulullah mengajarkan, kalau engkau menyembelih binatang ternak, lakukanlah
dengan sebaik-baiknya. Jangan dicekik, ditusuk atau dipukul. Sembelihlah dengan
pisau yang tajam.
Rasulullah Saw juga mengajarkan kepada umat manusia untuk
memanfaatkan lingkungan hidup dan menjaga kelestariannya. Dalam peperangan
sekalipun, tentatara Islam dilarang merusak tanaman-tanaman dan tumbuh-tumbuhan
tanpa manfaat. Dengan demikian, visi utama pendidikan Islam Rasulullah Saw
adalah memberi rahmat bagi seluruh alam.
Misi
Pendidikan Islam Rasulullah Saw
Misi
pendidikan Islam zaman Rasulullah Saw antara lain:
- Mendorong timbulnya kesadaran umat manusia agar mau melakukan kegiatan belajar dan mengajar
Hal ini
sejalan dengan firman Allah sebagai berikut:
“Bacalah
dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan. Dia telah menciptakan manusia
dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah. Yang mengajar
(manusia) dengan perantaran kalam. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak
diketahuinya.”
Perintah
membaca sebagaimana terdapat pada ayat tersebut sungguh mengejutkan untuk
masyarakat Arab saat itu, karena membaca belum menjadi budaya mereka. Budaya
mereka ialah menghafal, yakni manghafal syair-syair yang di dalamnya memberikan
ajaran yang harus mereka jalani. Membaca dalam ayat tersebut selain berarti
menghimpun atau mengumpulkan informasi dengan melihat huruf-huruf, kata-kata
dan kalimat dalam sebuah buku atau referensi lainnya, juga mencakup pula
meneliti, mengamati, mengidentifikasi, mengklasifikasi, mengategorisasi,
menyimpulkan, dan memverifikasi. Dengan membaca ini timbullah kegiatan
penggalian dan pengembangan ilmu pengetahuan dan peradaban yang membawa
kemajuan bangsa.
- Melaksanakan kegiatan belajar mengajar sepanjang hayat
Hal ini
sejalan dengan hadits Rasulullah Saw, yaitu: “Tuntutlah ilmu mulai dari buaian hingga ke liang lahat.”
Hadits tersebut mengandung isyarat tentang konsep belajar
seumur hidup, yaitu belajar dan mengajar tidak hanya terbatas pada ruang kelas
saja, melainkan di mana saja dan pada berbagai kesempatan. Hal ini sejalan
dengan konsep pendidikan integrated, yaitu belajar dan mengajar yang
menyatu dengan berbagai kegiatan yang ada di masyarakat.
- Melaksanakan program wajib belajar
Hal ini
sejalan dengan sabda Rasulullah Saw, yaitu:
Dari Abu
Hurairah, Rasulullah Saw bersabda, “Menuntut ilmu wajib bagi setiap orang
muslim.” (HR. Ibnu Majah).
Kata ilmu
sebagaimana terdapat dalam hadits tersebut adalah pengetahuan yang telah
didukung oleh data dan fakta yang shahih dan disusun berdasarkan metode ilmiah,
yaitu metode yang sistematis, objektif, komprehensif, dan rasional.
- Melaksanakan program Pendidikan Anak Usia Dini
Program
pendidikan anak usia dini ini berdasarkan pada hadits dan isyarat Rasulullah
Saw yang terkait dengan membangun rumah tangga, serta berbagai kewajiban orang
tua terhadap anaknya.
membiasakan
bertingkah laku sopan terhadap orang tua, kakek, nenek dan saudara-saudaranya,
memberikan perhatian dan kasih sayang cukup, mengajari bacaan al Qur’an, membisakan shalat, dan
mencegah serta memeliharanya dari pergaulan dan pengaruh buruk. Semua perlakuan
orang tua terhadap anaknya ini memiliki arti
dan fungsi yang sangat besar bagi tumbuhnya pribadi anak yang shaleh dan
shalehah, serta berkepribadian yang utuh dan sempurna.
- Mengeluarkan manusia dari kehidupan dzulumat (kegelapan) kepada kehidupan yang terang benderang.
Hal ini
sejalan dengan berfirman firman Allah berikut:
“Alif,
laam raa. (Ini adalah) kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu
mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan
izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan yang Maha Perkasa lagi Maha
Terpuji.”
“Dialah
yang memberi rahmat kepadamu dan malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu),
supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). dan
adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman.”
“Dialah
yang menurunkan kepada hamba-Nya ayat-ayat yang terang (al Quran) supaya Dia
mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya. dan Sesungguhnya Allah
benar-benar Maha Penyantun lagi Maha Penyayang terhadapmu.”
Berdasarkan
pada ayat-ayat tersebut, terdapat beberapa catatan sebagai berikut: Pertama,
adanya perintah Allah kepada Nabi Muhammad agar mengeluarkan manusia dari
kegelapan kepada cahaya yang terang benderang. Kegelapan pada ayat ini dapat
mengandung arti kebodohan, karena orang yang bodoh tidak dapat menjelaskan
berbagai hal dalam kehidupan yang amat luas dan kompleks. Adapun cahaya yang
terang benderang dapat diartikan ilmu pengetahuan, karena dengan ilmu
pengetahuan itulah semua kejadian dan peristiwa dalam kehidupan dapat
dijelaskan. ilmu seperti cahaya, dan dengan cahaya ini kehidupan menjadi
bermakna, berkualitas, dan memperoleh kemudahan. Misi Nabi Muhammad Saw ini
selanjutnya diamanatkan kepada para ulama, termasuk kepada pendidik.
Kedua, bahwa sumber ilmu pengetahuan
(cahaya) yang dapat mengeluarkan manusia dari kegelapan tersebut yaitu al
Qur’an yang telah banyak dikaji isi dan kandungannya oleh para ulama. Al Qur’an
juga bukan hanya bicara masalah urusan keakhiratan, tetapi urusan duniawi;
bukan hanya berisi ajaran yang berkaitan dengan pembinaan spiritual dan moral,
melainkan juga pembinaan intelektual, sosial,
dan jasmani. Seluruh aspek kehidupan manusia dibina secara utuh dan manyeluruh
secara seimbang, harmonis, serasi dan proporsional.
- Memberantas sikap Jahiliyah
Hal ini
sejalan dengan firman Allah berikut:
“Ketika orang-orang kafir menanamkan dalam hati mereka
kesombongan (yaitu) kesombongan Jahiliyah lalu Allah menurunkan ketenangan
kepada Rasul-Nya, dan kepada orang-orang mukmin dan Allah mewajibkan kepada
mereka kalimat-takwa dan adalah mereka berhak dengan kalimat takwa itu dan
patut memilikinya. dan adalah Allah Maha mengetahui segala sesuatu.”
Dengan
demikian, makna jahiliyah bukan berarti bodoh dalam arti idiot, melainkan bodoh
dalam arti memilih pola pikir yang keliru. Yaitu lebih memilih harta, takhta,
dan kasta, dari pada kebenaran yang akan menyelamatkan kehidupannya di dunia
dan akhirat.
- Menyelamatkan manusia dari tepi jurang kehancuran yang disebabkan karena pertikaian
Keadaan
masyarakat seperti inilah yang dihadapi oleh Nabi Muhammad Saw di Mekkah dan
Madinah pada khususnya, dan di dunia pada umumnya. Masyarakat tersebut berhasil
diperbaiki dan diluruskan oleh Nabi Muhammad Saw dalam waktu yang relatif
singkat. Misi kerasulan Nabi Muhammad oleh para ahli sejarah dinilai sebagai
yang paling berhasil dibandingkan dengan misi kerasulan yang dibawa oleh para
nabi dan rasul lainnya.
- Melakukan pencerahan batin kepada manusia agar sehat rohani dan jasmaninya
Hal ini
sejalan dengan firman Allah berikut ini:
“Dan Kami
turunkan dari al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang
beriman dan al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain
kerugian.”
Ayat
tersebut berbicara tentang salah satu misi Rasulullah Saw yang terkandung dalam
al Qur’an, yaitu memperbaiki mental dan pola pikir (mindset) masyarakat,
sebagai modal utama bagi perbaikan di bidang lain. Islam mengingatkan bahwa
antara jiwa dan raga memiliki hubungan fungsional simbiotik, yaitu
saling menopang dan mempengaruhi. Jiwa yang sehat akan mempengaruhi fisik, dan
fisik yang sehat akan mempengaruhi jiwa. Keadaan jiwa yang demikian itulah yang diperbaiki oleh
Rasulullah Saw melalui kegiatan pendidikan.
- Menyadarkan manusia agar tidak melakukan perbuatan yang menimbulkan bencana di muka bumi, seperti permusuhan dan peperangan
Hal ini
sejalan dengan firman Allah berikut ini:
“Dan
janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya
dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan
(akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah Amat dekat kepada orang-orang yang
berbuat baik.”
- Mengangkat harkat dan martabat manusia sebagai makhluk yang paling sempurna di muka bumi
Hal ini
sejalan dengan firman Allah berikut ini:
“Dan
Sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan
dan di lautan, Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan
mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami
ciptakan.”
Ayat
tersebut mengingatkan bahwa manusia diciptakan dalam struktur fisik dan psikis
yang lengkap dan sempurna. Manusia memiliki pancaindra yang lengkap, serasi,
dan proporsional letaknya. Manusia memiliki akal (kemampuan berpikir), hati
nurani, kecerdasan, bakat, minat, perasaan sosial, dan sebagainya. Dengan
kelengkapan jasmani dan rohani inilah, manusia dapat mengerjakan tugas-tugas
yang berat, menciptakan kebudayaan dan peradaban, menguasai daratan, lautan dan
udara, dan sebagainya. Semua ini terjadi jika berbagai potensi manusia tersebut
dibina dan dikembangkan melalui pendidikan.
Tujuan
Pendidikan Islam Rasulullah Saw
Manusia
yang berakhlak mulia harus menjadi sasaran proses pendidikan Islam karena
itulah juga sebagai tujuan utama pendidikan Islam Rasulullah Saw. Berkenaan
dengan akhlak mulia sebagai tujuan pendidikan dapat dilihat dari ayat dan
hadits-hadits berikut ini:
“Dan
sesungguhnya kamu (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang agung.”
Abu
Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah Saw bersabda: “Sesungguhnya aku diutus
untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak.”
Jabir bin
Abdullah berkata, Rasulullah Saw berkata: “Sesungguhnya Allah mengutusku dengan
tugas membina kesempurnaan akhlak dan kebaikan pekerjaan.”
Abdullah
bin Amr, berkata bahwa Rasulullah Saw bukan seorang yang keji dan bukan pula
bersikap keji. Beliau bersabda, “Sesungguhnya yang terbaik di antara kamu
adalah yang paling baik akhlaknya.”
Berdasarkan
ayat dan hadits-hadits di atas menunjukkan dengan tegas bahwa tujuan utama
pendidikan Rasulullah Saw adalah memperbaiki akhlak manusia. Beliau
melaksanakan tujuan tersebut dengan cara menghiasi dirinya dengan berbagai
akhlak yang mulia dan menganjurkan agar umatnya senantiasa menerapkan akhlak
tersebut dalam kehidupannya sehari-hari. Bahkan secara tegas, beliau menyatakan
bahwa kualitas iman seseorang itu dapat diukur dengan akhlak yang ditampilkannya.
Itu berarti bahwa semakin bagus kualitas iman seseorang akan semakin baik pula
akhlaknya. Dengan kata lain, akhlak seseorang yang jelek merupakan
pertanda bahwa imannya tidak bagus.
Rasulullah
Saw adalah perwujudan riil “al Qur’an yang berjalan”. Diriwayatkan oleh Muslim,
bahwa ketika Aisyah ditanya tentang akhlak Rasulullah maka beliau menjawab,
“Akhlak Rasulullah adalah al Qur’an.” Untuk itulah, Rasulullah diperintahkan
untuk membentuk al Qur’an, al Qur’an berjalan atau manusia-manusia rabbani,
yaitu manusia-manusia yang memiliki akhlak mulia berdasarkan nilai-nilai rabbaniyyah
(Ketuhan-an).
Mukhtar
Yahya berpendapat bahwa tujuan pendidikan Islam adalah memberikan pemahaman
ajaran-ajaran Islam pada peserta didik dan membentuk keluhuran budi pekerti
sebagaimana tujuan Rasulullah Saw sebagai pengemban perintah menyempurnakan
akhlak manusia, untuk memenuhi kebutuhan kerja.
Bila
tujuan utama Rasulullah Saw adalah menyempurnakan kemuliaan akhlak, maka
proses pendidikan seyogianya diarahkan menuju terbentuknya pribadi dan
umat yang berakhlak mulia. Hal ini sesuai dengan penegasan Allah bahwa Nabi
Muhammad Saw adalah teladan utama bagi umat manusia. Untuk mencapai hal itu,
akhlak mulia harus ditegaskan dalam formulasi tujuan pendidikan.
Islam sebagai
agama yang seimbang, mengajarkan bahwa setiap usaha yang dilakukan manusia
tidak hanya melibatkan peran manusia semata, melainkan juga melibatkan peran
Tuhan. Nabi Muhammad Saw menggambarkan proses pendidikan seperti sebuah
kegiatan bertani. Jika seorang petani ingin mendapatkan hasil pertanian yang
baik, maka ia harus menyiapkan lahan yang subur dan gembur, udara dan cuaca
yang tepat, air dan pupuk yang cukup, bibit yang unggul, cara menanam yang
benar, pemeliharaan dan perawatan tanaman yang benar dan intensif, waktu dan
masa tanam yang tepat dan cukup. Namun meski berbagai usaha tersebut telah
dilakukan, tetapi belum dapat menjamin seratus persen bahwa hasil pertanian
tersebut akan berhasil dengan baik.
Tanah yang
subur dan gembur serta bibit yang unggul dapat digambarkan seperti bakat dan
potensi peserta didik yang bersifat internal. Adapun cara menanam yang benar,
pemeliharaan dan perawatan yang tepat dan intensif dan pemberian pupuk yang
cukup dapat digambarkan seperti usaha dan program pendidikan yang dilakukan
oleh sekolah dan guru. Adapun keberhasilan pertanian menggambarkan peranan
Tuhan. Dengan demikian, maka pendidikan Islam menganut paham teo-anthropo
centris, yaitu memusatkan pada perpaduan antara kehendak Tuhan dan usaha
manusia.
b.
Pemilihan Dar
al Arqam
Sosok
Abu Abdillah al-Arqam bin Abi al-Arqam inilah yang kita bicarakan. Dia lahir
pada 673 Masehi. Dia seorang pedagang dan pengusaha yang sangat berpengaruh
dari kabilah bani Makhzum dari kota Mekkah. Tiada seorang pun yang mengira bahwa beliau
adalah orang yang meyediakan tempat rumahnya sebagai tempat yang digunakan
untuk membina para sahabat mempelajari dan memahami setiap wahyu yang turun,
dan dalam literature sejarah tak banyak namanya disebutkan. Namun jasanya dalam perkembangan awal dakwah Islam tak bisa
dilupakan dan menjadi barometer pembinaan dakwah.
Dalam
sejarah Islam, dia termasuk kalangan yang awal masuk Islam bahkan, orang yang
ketujuh dari As-Sabiqun al-Awwalun. Tempat
tinggal beliau berlokasi tak jauh dari Bukit Safa. Di tempat inilah para
pengikut Muhammad diajarkan berbagai pemahaman tentang agama Islam dan juga
pengemblengan aqidah.
Hampir
setiap malam satu demi satu para sahabat secara bergantian keluar masuk rumah
tersebut untuk dibina Rasulullah agar mereka menjadi pengemban dakwah.
Sebelumnya rumah al-Arqam ini disebut Dar al-Arqam (rumah Al-Arqam) dan setelah
dia memeluk Islam akhirnya disebut Dar al-Islam (Rumah Islam). Dari rumah
inilah madrasah pertama kali ada. Al-Arqam juga ikut hijrah bersama dengan
Rasulullah Saw ke Madinah. Beliau wafat pada tahun 675 masehi.
Pada
awal penyebaran Islam, Rasulullah Saw masih menyebarkan agama secara
sembunyi-sembunyi. Muhammad mulai merasa perlu mencari sebuah tempat bagi para
pemeluk Islam dapat berkumpul bersama. Di tempat itu akan diajarkan kepada
mereka tentang prinsip-prinsip Islam, membacakan ayat-ayat Al-Qur’an,
menerangkan makna dan kandungannya, menjelaskan hukum-hukumnya dan mengajak
mereka untuk melaksanakan dan mempraktikkannya. Pada akhirnya Rasulullah
Saw memilih sebuah rumah di bukit Shafa milik Abdillah al-Arqam bin Abi
al-Arqam. Semua kegiatan itu dilakukan secara rahasia tanpa sepengetahuan siapa
pun dari kalangan orang-orang kafir. Rumah milik Abu Abdillah al-Arqam bin Abi
al-Arqam ini merupakan Madrasah pertama sepanjang sejarah Islam, tempat ilmu
pengetahuan dan amal saleh diajarkan secara terpadu oleh sang guru pertama,
yaitu Muhammad Rasulallah Saw. Beliau sendiri yang mengajar dan mengawasi
proses pendidikan di sana. .
Mengapa
Harus Rumah Al Arqam?
Rumahnya
tersebut berada di pinggiran kota Mekkah, di Bukit Safa. Dan dapat kita
bayangkan hiruk pikuknya kota Mekkah yang merupakan kota suci tujuan sentral
peziarah agama samawi, sekaligus sebagai salah satu kota transit perdagangan
kafilah-kafilah, tentunya kecil kemungkinan orang-orang akan memperhatikan
siapa dan apa yang dilakukan orang lain.
Dengan
fakta seperti ini, maka dengan menggunakan kediaman Arqam bin Abi Arqam
tentunya akan sangat menguntungkan dalam menyebarkan dakwah awal secara
sembunyi-sembunyi. Pergerakan yang dilakukan di rumahnya tidak akan mudah
dicurigai oleh masyarakat, karena orang-orang tentunya tidak menyangka adanya
keterkaitan Rasulullah dengan sahabat yang satu ini.
Justru disinilah letak kemisteriusan beliau dan sekaligus
kelebihan yang dimilikinya, ketidak terkenalnya beliau memungkinkan orang orang
Mekah tidak ambil pusing dan peduli dengan keadaan di rumah beliau, terlebih
rumahnya yang jauh dari kota terletak dipinggiran.
Dan
inilah kemudian menjadi pilihan Rasul untuk memilih tempat tersebut sebagai
pusat dakwah awal Islam sungguh suatu strategi dakwah yang brilian.
Mungkin
ini merupakan sebuah ibrah yang dapat kita ambil dari
sahabat Rasulullah yang satu ini. Ia merupakan salah satu orang penting dalam
proses pergerakan dakwah, namun ia tidak memerlukan sebuah ketenaran. Perannya
penting, namun tidak mengharapkan pujian. Seorang penyokong utama sebuah
keberhasilan dakwah, namun riwayat hidupnya tidak tersampaikan oleh sejarah.
Sungguh sebuah kerja besar yang ikhlas.
c.
Perencanaan
Hijrah Ke Habasyah Dan Ke Madinah
Hijrah ke
Habasyah ini dilakukan kaum muslim karena semakin meningkatnya intimidasi kaum
Qurisy pada mereka. Setelah dua bulan tinggal di Habasyah, mereka kembali ke
Mekah karena mengira intimidasi kaum Quraisy sudah jauh berkurang.
Namun,
perkiraan itu salah. Sebab, pada kenyataannya kaum musyrik Mekah malah
meningkatkan intimidasinya terhadap kaum muslim. Nabi Muhammad saw. kemudian
menyarankan para sahabatnya untuk hijrah kembali ke Habasyah. Rencana hijrah kedua
ini lebih berat karena pihak musuh sudah mencium rencana tersebut. Hal ini
menyebabkan kaum muslim bergerak lebih cepat. Rombongan ini dipimpin oleh
Ja’far bin Abi Thalib, dan sebanyak delapan puluh tiga pria dan tiga belas
wanita berhasil berangkat hijrah ke Habasyah. Mereka tiba dengan selamat.
Tetapi, tidak lama kemudian datang utusan dari Mekah yang dipimpin oleh ‘Amr
bin al-‘Ash dan Abdullah bin Abi Rabi’ah. Mereka bermaksud meminta kaum muslim,
sambil membawa banyak hadiah untuk Raja Najasyi. Terjadilah dialog antara
Ja’far bin Abi Thalib dengan utusan dari kaum musyrik Mekah dihadapan Raja
Najasyi. Namun, pada akhirnya kaum muslim berhasil meyakinkan Raja Najasyi akan
kebenaran hijrah mereka, dan utusan kaum musyrik pun kembali ke Mekah tanpa hasil.
Rasulullah
saw kemudian mengirim surat kepada Raja Najasyi dan menyerunya untuk masuk
Islam. Raja Najasyi menerima seruan tersebut. Dan tatkala raja Najasyi ini
meninggal dunia, Rasulullah sawpun melakukan shalat gaib untuknya.
Semakin lama
tekanan dan intimidasi yang dialami oleh Rasulullah saw. dan kaum muslim
semakin dahsyat. Hal inilah yang menyebabkan mereka hijrah Madinah. Jika hijrah
ke Habasyah dilakukan secara kecil-kecilan oleh sejumlah sahabat, maka hijrah
ke Madinah ini dilakukan dengan perbekalan dan persiapan yang matang dan
memadai.
Namun,
peristiwa yang sangat menentukan kesuksesan dakwah Islam, dan menjadi titik
peralihan menuju kemenangan adalah ketika Rasulullah saw. dan para sahabatnya
berhasil hijrah ke Madinah dengan selamat. Keberhasilan hijrah ini tidak
terlepas dari beberapa peristiwa yang terjadi sebelumnya, yaitu proses sumpah
setia atau bai’ah oleh beberapa orang dari Madinah. Peristiwa ini
dikenal dengan Bai’atul ‘Aqabah al Ula wa Tsaniyah.
Bai’ah
yang pertama dilakukan oleh sepuluh orang dari suku Khazraj dan dua orang dari
suku Aus kepada Rasulullah saw. Bai’ah ini dilakukan ketika mereka
ziarah ke Masjidil Haram. Peristiwa ini terjadi pada tahun ke-12 kenabian
(tahun 621 M di bulan Juli) di Aqabah, Mina. Adapun teks bai’ahnya: “Kami
tidak akan mempersekutukan Allah dengan apapun juga, tidak akan mencuri, tidak
berzina, tidak membunuh anak-anak kami, tidak akan berdusta dengan
menutup-nutupi apa yang ada di depan dan di belakang kami, dan tidak akan
membantah perintah nabi dalam hal kebajikan” (HR. al-Bukhari)
Sedangkan bai’ah
yang kedua terjadi pada musim haji tahun ke-13 kenabian (tahun 622, bulan Juni)
di tempat yang sama. Adapun isinya adalah, “Kalian membai’atku dengan
berjanji untuk patuh dan setia kepadaku, baik dalam keadaan sibuk maupun
senggang, memberi infak baik dalam keadaan lapang rezeki maupun sempit,
menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar, teguh membela agama Allah tanpa
memperhatikan perbedaan ras, tidak takut dicela orang lain, tetap membantu dan
membelaku ketika aku berada di tengah-tengah kalian sebagaimana kalian membela
diri dan anak isteri kalian. Jika kalian melaksanakan semua ini, kalian akan
memdapatkan surga.” (HR. Ahmad bin Hanbal)
Peristiwa yang lainnya adalah kesepakatan
para pemuka suku Quraiys untuk menghabisi kaum muslim dan Rasulullah saw. di
Darun Nadwah. Namun, kesepakatan ini diketahui oleh Rasulullah saw. melalui
wahyu yang turun kepadanya, “Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir
(Quraisy) memikirkan tipu daya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu
atau membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka memikirkan tipu daya
dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik Pembalas tipu
daya.” (al-Anfal: 30)
Rasulullah saw.
memerintahkan kepada kaum muslimin untuk hijrah ke Madinah setelah turunnya
ayat ini. Para sahabat mulai meninggalkan Mekah secara bergelombang. Rasulullah
saw. sendiri adalah orang yang terakhir pergi ke Madinah.
Rasulullah
saw. menyiapkan hijrah ini secara matang. Sebab, target utama kaum musyrik
Mekah adalah mengagalkan hijrah kaum muslimin. Rasulullah saw. menyiapkan
bekal, kendaraan, penunjuk jalan, strategi, dan rute yang akan ditempuh. Beliau
juga meminta Abu Bakar ash-Shiddiq menemaninya, dan seorang pemandu jalan yang
bernama Abdullah bin Uraiqit.
Rasulullah
saw. meninggalkan rumah pada malam hari tanggal 27 bulan Shafar tahun ke-13
kenabian atau bertepatan dengan tanggal 12 atau 13 September tahun 622 M.
Perjalanan awal keluar Mekah jusru menempuh jalan yang berlawanan dengan jalan
menuju Madinah. Hal ini dimaksudkan untuk mengecoh para pengejar. Gua Tsur
adalah tempat tujuan mereka. Di gua ini mereka bermalam selama tiga hari. Kaum
musyrik Quraisy sempat mengejar, tetapi keberadaan Rasulullah saw. dan Abu
Bakar di dalam gua tidak diketahui mereka.
Rasulullah
saw. akhirnya tiba di Yatsrib (Madinah) pada hari Jum’at tanggal 12 Rabiul
Awwal di tahun yang sama. Beliau disambut penduduk Madinah dengan meriah.
Al-Barra bin ‘Azib seorang sahabat dari kaum Anshor mengatakan, “Orang
pertama dari para sahabat yang datang ke Yatsrib ialah Mus’ab bin Umair dan
Ibnu Ummi Maktum. Kedua orang inilah yangmengajarkan Al Qur’an kepada kami.
Kemudian menyusul Ammar bin Yasir, Sa’ad bin Abi Waqqash, dan Umar bin al-Khaththab
bersama kafilah yang terdiri dari dua puluh orang. Setelah itu, barulah
Rasulullah saw datang menyusul. Saya belum pernah melihat banyak orang
bergembira seperti saat mereka menyambut kedatangan beliau, sehingga kaum
wanita, anak-anak, dan para hamba sahaya perempuan bersorak-sorai meneriakkan,
“Itulah dia, Rasulullah saw telah datang.” (HR. al-Bukhari).
Kedatangan
Rasulullah saw di kota Yatsrib ternyata membawa perubahan yang sangat besar
bagi perkembangan Islam. Paling tidak, beliau berhasil menjadi juru damai bagi
dua suku asli penduduk Yatsrib, yaitu suku Aus dan Khzaraj. Rasulullah saw.
mempersaudarakan, menyatukan, dan mendamaikan mereka dengan ikatan iman dan
Islam serta persaudaraan Islamiyah. Sehingga terhapuslah di hati mereka
militansi kesukuan yang sempit. Sementara itu, para pendatang Muhajirin juga
mulai mewarnai aktivitas di kota itu dengan perdagangan. Tak lama kemudian,
kaum Muhajirin mampu menggeser dominasi ekonomi dan perdagangan kaum Yahudi.
Rasulullah saw. kemudian meletakkan tiga hal yang menjadi
tonggak pembentukan masyarakat baru, yaitu:
1.
Memperkokoh hubungan kaum muslim dan Tuhannya dengan membangun masjid;
2.
Memperkokoh hubungan intern umat Islam dengan mempersaudarakan kaum pendatang
Muhajirin dari Mekah dengan penduduk asli Madinah, yaitu kaum Anshor;
3. Mengatur
hubungan umat Islam dengan orang-orang diluar Islam, baik yang ada di dalam
maupun di sekitar kota dengan cara mengadakan perjanjian perdamaian.
Melalui tiga
hal di atas, Rasulullah saw. berhasil membangun masyarakat ideal. Masyarakat
ini terwujud dalam suatu negara, yang beliau beri nama Madinah,
artinya “kota” atau “tempat peradaban”. Di dalam masyarakat itu, Rasulullah
saw. secara bertahap menerapkan sistem yang dapat melindungi mereka dengan
kehidupan yang damai dan makmur. Pada akhirnya, disebabkan melihat suasana
damai itu, banyak penduduk kota Madinah dan sekitarnya yang menyatakan masuk
Islam.
Setelah
terbentuknya negara Madinah, Islam mulai menguatkan eksistensinya di wilayah
sekitar kota Madinah, sampai kota Mekah pun dapat dibebaskan. Dengan
dibebaskannya Mekah tidak ada lagi hijrah ke Madinah. Hal ini sesuai dengan
sabda Rasulullah saw, “Tidak ada hijrah setelah pembebasan (Mekah).” (HR.
al-Bukhari)
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Dengan demikian, pendidikan Islam seharusnya bertujuan
mencapai pertumbuhan yang seimbang dalam kepribadian manusia secara total
melalui pelatihan spiritual, kecerdasan, rasio, perasaan, dan panca indera.
Oleh karena itu, pendidikan Islam seharusnya pelayanan bagi pertumbuhan bagi
manusia dalam segala aspeknya yang meliputi aspek spiritual, intelektual,
imajinasi, fisik, ilmiah, linguistik, baik secara individu, maupun secara
kolektif dan memotivasi semua aspek tersebut kepada kebaikan dan pencapaian
kesempurnaan. Tujuan akhir pendidikan bertumpu pada terealisasinya ketundukan
kepada Allah baik dalam level individu, komunitas, dan manusia secara luas.
Rasulullah
Saw telah memperlihatkan akhlak yang mulia sepanjang hidupnya. Muhammad Athiyah
al Abrasyi mengemukakan bahwa Nabi Muhammad Saw adalah yang paling baik
tingkah lakunya, pemuda yang paling bersih, manusia yang paling zuhud dalam
hidupnya, hakim yang paling adil dalam memutuskan perkara, prajurit yang paling
berani dalam membela kebenaran, ikutan yang terbaik bagi orang-orang saleh dan
para pendidik. Pribadi beliau merupakan presentasi akhlak yang sesuai dengan al
Qur’an.
B. Saran
Mungkin inilah yang diwacanakan pada penulisan Makalah ini
meskipun penulisan ini jauh dari sempurna. Masih banyak kesalahan dari
penulisan makalah ini, karena kami manusia yang adalah tempat
salah dan dosa: dalam hadits “al insanu minal khotto’ wannisa’, dan kami juga
butuh saran/ kritikan dari kalian semua, agar bisa menjadi motivasi
untuk masa depan yang lebih baik
DAFTAR PUSTAKA
Engineer ,A. Ali . 1999.
Asal usul dan perkembangan islam. Yogyakarta : Pustaka pelajar
Hasa ibrahim hasan. 2001. Sejarah
dan kebudayaan islam 1. Jakarta: kalam mulia
Jaih mubarok. 2008. Sejarah
peradaban islam. Bandung: pustaka islamika
Prof.
Dr. H. Samsul Nizar, M. Ag. Sejarah Pendidikan Islam: Menelusuri Jejak Sejarah
Era Rasulullah Sampai Indonesia, Prenada Media Group, Jakarta, 1999.
Http/.www. suara-islam.com
Kampus pejuang.com
terima kasih
BalasHapus