Kamis, 02 Juli 2015

Makalah Manajemen Pendidikan ala Rasulullah SAW.



Tugas Kelompok 13
MAKALAH
Manajemen Pendidikan Islam Ala Rasulullah
Diajukan  untuk melengkapi tugas mata kuliah Manajemen Pendidikan Islam:

Dosen
Imam Wahyudi, M.Pd.I

Oleh :
Lukman Maulana     1311010341
Tri Kurnia Sari         1311010353
Lisa Mayasari            1311010377

FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)
RADEN INTAN LAMPUNG
2014

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah yang maha kuasa karena atas rahmat dan karunianya, sehingga kita dapat mengenal ilmu, pengetahuan, tak lupa kita haturkan shalawat beserta salam atas junjungan alam Nabi besar kita yaitu nabi Muhammad saw.
Kemudian kami, mengucapkan terimakasih kepada Ibu dan Bapak Guru/Dosen yang telah mengajari kami ilmu yang sangat banyak, berkat ilmu itu juga kami mampu menyelesaikan Makalah ini pada waktunya.
Dalam penyusunan Makalah ini, kami menyadari sepenuhnya masih banyak kekurangan, karena keterbatasan kemampuan dan pengetahuan yang kami milki. Namun demikian kami sangat merasakan bahwa hal tersebut merupakan pendorong untuk dapat memperbaiki dan melangkah lebih baik lagi.




Bandar Lampung, 22 September 2014



Penyusun




DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ..................................................................................
DAFTAR ISI .................................................................................................
BAB I PENDAHULUAN
 .............................................................................
          A.    Latar Belakang................................................................................
          B.    Rumusan Masalah...........................................................................
BAB II PEMBAHASAN...............................................................................
a. 
Rasulullah sebagai perencana pendidikan, Visi, Misi dan Tujuan Pendidikan Islam
b. 
Pemilihan Dar al Arqam.... ...........................................................................
c. Perencanaan Hijrah ke Habasyah dan ke Madinah.......................................
BAB III PENUTUP.......................................................................................
          A.   Kesimpulan.....................................................................................  
          B.   Saran.............................................................................................       

DAFTAR PUSTAKA......................................................................................








BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Rasulullah saw adalah teladan sejati dalam segala aspek kehidupan, termasuk dalam pendidikan. Beliau adalah guru kita dalam mengajarkan islam dan bagaimana meningkatkan kualitas sumber daya manusia. masa-masa awal penyampaian risalah yang beliau bawa adalah saat yang sangat krusial. Sebab. Beliaulah pendidik pertama bagi sahabat-sahabat beliau dalam mengenal islam hingga islam ada sampai saat ini.
Adapun perjuangan yang dicapai rasulullah dalam mendakwahkan ajaran agama islam kepada penduduk zaman itu sangatlah tidak mudah dan butuh strategi dan perjuangan yang luar biasa Lalu, bagaimana sosok Rasulullah saw. yang sebenarnya ummi mampu mendidik generasi awal dalam islam sampai mencapai masa keemasannya dan bisa bertahan sampai saat ini? apa saja yang dicanangkan Rasulullah sebagai perencana pendidikan?

B.     Rumusan Masalah
a.       Rasulullah sebagai perencana pendidikan?
b.      Apakah yang dimaksud dengan pemilihan dar al arqam?
c.       Perencanaan hijrah ke habasyah dan ke madinah?







BAB II
PEMBAHASAN

a.        Rasulullah Sebagai Perencana Pendidikan, Visi, Misi, Dan Tujuan Pendidikan Islam
Visi Pendidikan Islam Rasulullah Saw
Visi pendidikan Islam yang diaplikasikan oleh Rasulullah Saw sesungguhnya melekat pada cita-cita dan tujuan jangka panjang ajaran Islam itu sendiri, yaitu mewujudkan rahmat bagi seluruh manusia, sesuai dengan firman Allah berikut ini:
“Dan tiadalah kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.”
Tafsir ayat tersebut, oleh Imam Al Maraghi ditafsirkan sebagai berikut: “Bahwa maksud ayat yang artinya: Dan tiadalah kami mengutus kamu, melainkan untuk menjadi rahmat bagi semesta alam, adalah bahwa tidaklah aku utus engkau Muhammad dengan al Qur’an ini, serta berbagai perumpamaan dari ajaran agama dan hukum yang menjadi dasar rujukan untuk mencapai bahagia dunia dan akhirat, melainkan agar menjadi rahmat dan petunjuk bagi mereka dalam segala urusan kehidupan dunia dan akhiratnya.”
Kedatangan Rasulullah Saw adalah rahmat bagi umat manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan dan makhluk-makhluk lainnya. Rasulullah membawa ajaran tentang persamaan, persatuan dan kemuliaan umat manusia, bagaimana tata cara hubungan manusia sesama manusia, hubungan sesama pemeluk agama, dan hubungan antara agama. Beliau juga mengajarkan tentang persaudaraan, perdamaian, keadilan, tolong menolong, tata hidup berkeluarga, bertetangga dan bermasyarakat dan lain sebagainya.
Rasulullah Saw melarang manusia berbuat sewenang-wenang, sekalipun terhadap binatang. Binatang diciptakan antara lain untuk dimafaatkan oleh manusia, bukan untuk disakiti atau disengsarakan, dan bukan pula untuk diperjudi dan dipermainkan. Rasulullah mengajarkan, kalau engkau menyembelih binatang ternak, lakukanlah dengan sebaik-baiknya. Jangan dicekik, ditusuk atau dipukul. Sembelihlah dengan pisau yang tajam.
Rasulullah Saw juga mengajarkan kepada umat manusia untuk memanfaatkan lingkungan hidup dan menjaga kelestariannya. Dalam peperangan sekalipun, tentatara Islam dilarang merusak tanaman-tanaman dan tumbuh-tumbuhan tanpa manfaat. Dengan demikian, visi utama pendidikan Islam Rasulullah Saw adalah memberi rahmat bagi seluruh alam.
Misi Pendidikan Islam Rasulullah Saw
Misi pendidikan Islam zaman Rasulullah Saw antara lain:
  • Mendorong timbulnya kesadaran umat manusia agar mau melakukan kegiatan belajar dan mengajar
Hal ini sejalan dengan firman Allah sebagai berikut:
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.”
Perintah membaca sebagaimana terdapat pada ayat tersebut sungguh mengejutkan untuk masyarakat Arab saat itu, karena membaca belum menjadi budaya mereka. Budaya mereka ialah menghafal, yakni manghafal syair-syair yang di dalamnya memberikan ajaran yang harus mereka jalani. Membaca dalam ayat tersebut selain berarti menghimpun atau mengumpulkan informasi dengan melihat huruf-huruf, kata-kata dan kalimat dalam sebuah buku atau referensi lainnya, juga mencakup pula meneliti, mengamati, mengidentifikasi, mengklasifikasi, mengategorisasi, menyimpulkan, dan memverifikasi. Dengan membaca ini timbullah kegiatan penggalian dan pengembangan ilmu pengetahuan dan peradaban yang membawa kemajuan bangsa.
  • Melaksanakan kegiatan belajar mengajar sepanjang hayat
Hal ini sejalan dengan hadits Rasulullah Saw, yaitu: “Tuntutlah ilmu mulai dari buaian hingga ke liang lahat.”
Hadits tersebut mengandung isyarat tentang konsep belajar seumur hidup, yaitu belajar dan mengajar tidak hanya terbatas pada ruang kelas saja, melainkan di mana saja dan pada berbagai kesempatan. Hal ini sejalan dengan konsep pendidikan integrated, yaitu belajar dan mengajar yang menyatu dengan berbagai kegiatan yang ada di masyarakat.
  • Melaksanakan program wajib belajar
Hal ini sejalan dengan sabda Rasulullah Saw, yaitu:
Dari Abu Hurairah, Rasulullah Saw bersabda, “Menuntut ilmu wajib bagi setiap orang muslim.” (HR. Ibnu Majah).
Kata ilmu sebagaimana terdapat dalam hadits tersebut adalah pengetahuan yang telah didukung oleh data dan fakta yang shahih dan disusun berdasarkan metode ilmiah, yaitu metode yang sistematis, objektif, komprehensif, dan rasional.
  • Melaksanakan program Pendidikan Anak Usia Dini
Program pendidikan anak usia dini ini berdasarkan pada hadits dan isyarat Rasulullah Saw yang terkait dengan membangun rumah tangga, serta berbagai kewajiban orang tua terhadap anaknya.
membiasakan bertingkah laku sopan terhadap orang tua, kakek, nenek dan saudara-saudaranya, memberikan perhatian dan kasih sayang cukup, mengajari bacaan al Qur’an, membisakan shalat, dan mencegah serta memeliharanya dari pergaulan dan pengaruh buruk. Semua perlakuan orang tua terhadap anaknya ini memiliki arti dan fungsi yang sangat besar bagi tumbuhnya pribadi anak yang shaleh dan shalehah, serta berkepribadian yang utuh dan sempurna.
  • Mengeluarkan manusia dari kehidupan dzulumat (kegelapan) kepada kehidupan yang terang benderang.
Hal ini sejalan dengan berfirman firman Allah berikut:
Alif, laam raa. (Ini adalah) kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji.”
“Dialah yang memberi rahmat kepadamu dan malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu), supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman.”
“Dialah yang menurunkan kepada hamba-Nya ayat-ayat yang terang (al Quran) supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya. dan Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Penyantun lagi Maha Penyayang terhadapmu.”
Berdasarkan pada ayat-ayat tersebut, terdapat beberapa catatan sebagai berikut: Pertama, adanya perintah Allah kepada Nabi Muhammad agar mengeluarkan manusia dari kegelapan kepada cahaya yang terang benderang. Kegelapan pada ayat ini dapat mengandung arti kebodohan, karena orang yang bodoh tidak dapat menjelaskan berbagai hal dalam kehidupan yang amat luas dan kompleks. Adapun cahaya yang terang benderang dapat diartikan ilmu pengetahuan, karena dengan ilmu pengetahuan itulah semua kejadian dan peristiwa dalam kehidupan dapat dijelaskan. ilmu seperti cahaya, dan dengan cahaya ini kehidupan menjadi bermakna, berkualitas, dan memperoleh kemudahan. Misi Nabi Muhammad Saw ini selanjutnya diamanatkan kepada para ulama, termasuk kepada pendidik.
Kedua, bahwa sumber ilmu pengetahuan (cahaya) yang dapat mengeluarkan manusia dari kegelapan tersebut yaitu al Qur’an yang telah banyak dikaji isi dan kandungannya oleh para ulama. Al Qur’an juga bukan hanya bicara masalah urusan keakhiratan, tetapi urusan duniawi; bukan hanya berisi ajaran yang berkaitan dengan pembinaan spiritual dan moral, melainkan juga pembinaan intelektual, sosial, dan jasmani. Seluruh aspek kehidupan manusia dibina secara utuh dan manyeluruh secara seimbang, harmonis, serasi dan proporsional.
  • Memberantas sikap Jahiliyah
Hal ini sejalan dengan firman Allah berikut:
“Ketika orang-orang kafir menanamkan dalam hati mereka kesombongan (yaitu) kesombongan Jahiliyah lalu Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya, dan kepada orang-orang mukmin dan Allah mewajibkan kepada mereka kalimat-takwa dan adalah mereka berhak dengan kalimat takwa itu dan patut memilikinya. dan adalah Allah Maha mengetahui segala sesuatu.”
Dengan demikian, makna jahiliyah bukan berarti bodoh dalam arti idiot, melainkan bodoh dalam arti memilih pola pikir yang keliru. Yaitu lebih memilih harta, takhta, dan kasta, dari pada kebenaran yang akan menyelamatkan kehidupannya di dunia dan akhirat.
  • Menyelamatkan manusia dari tepi jurang kehancuran yang disebabkan karena pertikaian
Keadaan masyarakat seperti inilah yang dihadapi oleh Nabi Muhammad Saw di Mekkah dan Madinah pada khususnya, dan di dunia pada umumnya. Masyarakat tersebut berhasil diperbaiki dan diluruskan oleh Nabi Muhammad Saw dalam waktu yang relatif singkat. Misi kerasulan Nabi Muhammad oleh para ahli sejarah dinilai sebagai yang paling berhasil dibandingkan dengan misi kerasulan yang dibawa oleh para nabi dan rasul lainnya.
  • Melakukan pencerahan batin kepada manusia agar sehat rohani dan jasmaninya
Hal ini sejalan dengan firman Allah berikut ini:
“Dan Kami turunkan dari al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.”
Ayat tersebut berbicara tentang salah satu misi Rasulullah Saw yang terkandung dalam al Qur’an, yaitu memperbaiki mental dan pola pikir (mindset) masyarakat, sebagai modal utama bagi perbaikan di bidang lain. Islam mengingatkan bahwa antara jiwa dan raga memiliki hubungan fungsional simbiotik, yaitu saling menopang dan mempengaruhi. Jiwa yang sehat akan mempengaruhi fisik, dan fisik yang sehat akan mempengaruhi jiwa. Keadaan jiwa yang demikian itulah yang diperbaiki oleh Rasulullah Saw melalui kegiatan pendidikan.
  • Menyadarkan manusia agar tidak melakukan perbuatan yang menimbulkan bencana di muka bumi, seperti permusuhan dan peperangan
Hal ini sejalan dengan firman Allah berikut ini:
“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah Amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.”
  • Mengangkat harkat dan martabat manusia sebagai makhluk yang paling sempurna di muka bumi
Hal ini sejalan dengan firman Allah berikut ini:
“Dan Sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.”
Ayat tersebut mengingatkan bahwa manusia diciptakan dalam struktur fisik dan psikis yang lengkap dan sempurna. Manusia memiliki pancaindra yang lengkap, serasi, dan proporsional letaknya. Manusia memiliki akal (kemampuan berpikir), hati nurani, kecerdasan, bakat, minat, perasaan sosial, dan sebagainya. Dengan kelengkapan jasmani dan rohani inilah, manusia dapat mengerjakan tugas-tugas yang berat, menciptakan kebudayaan dan peradaban, menguasai daratan, lautan dan udara, dan sebagainya. Semua ini terjadi jika berbagai potensi manusia tersebut dibina dan dikembangkan melalui pendidikan.
Tujuan Pendidikan Islam Rasulullah Saw
Manusia yang berakhlak mulia harus menjadi sasaran proses pendidikan Islam karena itulah juga sebagai tujuan utama pendidikan Islam Rasulullah Saw. Berkenaan dengan akhlak mulia sebagai tujuan pendidikan dapat dilihat dari ayat dan hadits-hadits berikut ini:
“Dan sesungguhnya kamu (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang agung.”
Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah Saw bersabda: “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak.”
Jabir bin Abdullah berkata, Rasulullah Saw berkata: “Sesungguhnya Allah mengutusku dengan tugas membina kesempurnaan akhlak dan kebaikan pekerjaan.”
Abdullah bin Amr, berkata bahwa Rasulullah Saw bukan seorang yang keji dan bukan pula bersikap keji. Beliau bersabda, “Sesungguhnya yang terbaik di antara kamu adalah yang paling baik akhlaknya.”
Berdasarkan ayat dan hadits-hadits di atas menunjukkan dengan tegas bahwa tujuan utama pendidikan Rasulullah Saw adalah  memperbaiki akhlak manusia. Beliau melaksanakan tujuan tersebut dengan cara menghiasi dirinya dengan berbagai akhlak yang mulia dan menganjurkan agar umatnya senantiasa menerapkan akhlak tersebut dalam kehidupannya sehari-hari. Bahkan secara tegas, beliau menyatakan bahwa kualitas iman seseorang itu dapat diukur dengan akhlak yang ditampilkannya. Itu berarti bahwa semakin bagus kualitas iman seseorang akan semakin baik pula akhlaknya. Dengan kata lain,  akhlak seseorang yang jelek merupakan pertanda bahwa imannya tidak bagus.
Rasulullah Saw adalah perwujudan riil “al Qur’an yang berjalan”. Diriwayatkan oleh Muslim, bahwa ketika Aisyah ditanya tentang akhlak Rasulullah maka beliau menjawab, “Akhlak Rasulullah adalah al Qur’an.” Untuk itulah, Rasulullah diperintahkan untuk membentuk al Qur’an, al Qur’an berjalan atau manusia-manusia rabbani, yaitu manusia-manusia yang memiliki akhlak mulia berdasarkan nilai-nilai rabbaniyyah (Ketuhan-an).
Mukhtar Yahya berpendapat bahwa tujuan pendidikan Islam adalah memberikan pemahaman ajaran-ajaran Islam pada peserta didik dan membentuk keluhuran budi pekerti sebagaimana tujuan Rasulullah Saw sebagai pengemban perintah menyempurnakan akhlak manusia, untuk memenuhi kebutuhan kerja.
Bila tujuan utama Rasulullah Saw adalah  menyempurnakan kemuliaan akhlak, maka proses pendidikan  seyogianya diarahkan menuju terbentuknya pribadi dan umat yang berakhlak mulia. Hal ini sesuai dengan penegasan Allah bahwa Nabi Muhammad Saw adalah teladan utama bagi umat manusia. Untuk mencapai hal itu, akhlak mulia harus ditegaskan dalam formulasi tujuan pendidikan.
Islam sebagai agama yang seimbang, mengajarkan bahwa setiap usaha yang dilakukan manusia tidak hanya melibatkan peran manusia semata, melainkan juga melibatkan peran Tuhan. Nabi Muhammad Saw menggambarkan proses pendidikan seperti sebuah kegiatan bertani. Jika seorang petani ingin mendapatkan hasil pertanian yang baik, maka ia harus menyiapkan lahan yang subur dan gembur, udara dan cuaca yang tepat, air dan pupuk yang cukup, bibit yang unggul, cara menanam yang benar, pemeliharaan dan perawatan tanaman yang benar dan intensif, waktu dan masa tanam yang tepat dan cukup. Namun meski berbagai usaha tersebut telah dilakukan, tetapi belum dapat menjamin seratus persen bahwa hasil pertanian tersebut akan berhasil dengan baik.
Tanah yang subur dan gembur serta bibit yang unggul dapat digambarkan seperti bakat dan potensi peserta didik yang bersifat internal. Adapun cara menanam yang benar, pemeliharaan dan perawatan yang tepat dan intensif dan pemberian pupuk yang cukup dapat digambarkan seperti usaha dan program pendidikan yang dilakukan oleh sekolah dan guru. Adapun keberhasilan pertanian menggambarkan peranan Tuhan. Dengan demikian, maka pendidikan Islam menganut paham teo-anthropo centris, yaitu memusatkan pada perpaduan antara kehendak Tuhan dan usaha manusia.
b.      Pemilihan Dar al Arqam
Sosok Abu Abdillah al-Arqam bin Abi al-Arqam inilah yang kita bicarakan. Dia lahir pada 673 Masehi. Dia seorang pedagang dan pengusaha yang sangat berpengaruh dari kabilah bani Makhzum dari kota Mekkah. Tiada seorang pun yang mengira bahwa beliau adalah orang yang meyediakan tempat rumahnya sebagai tempat yang digunakan untuk membina para sahabat mempelajari dan memahami setiap wahyu yang turun, dan dalam literature sejarah tak banyak namanya disebutkan. Namun jasanya dalam perkembangan awal dakwah Islam tak bisa dilupakan dan menjadi barometer pembinaan dakwah.
Dalam sejarah Islam, dia termasuk kalangan yang awal masuk Islam bahkan, orang yang ketujuh dari As-Sabiqun al-Awwalun. Tempat tinggal beliau berlokasi tak jauh dari Bukit Safa. Di tempat inilah para pengikut Muhammad diajarkan berbagai pemahaman tentang agama Islam dan juga pengemblengan aqidah.
Hampir setiap malam satu demi satu para sahabat secara bergantian keluar masuk rumah tersebut untuk dibina Rasulullah agar mereka menjadi pengemban dakwah. Sebelumnya rumah al-Arqam ini disebut Dar al-Arqam (rumah Al-Arqam) dan setelah dia memeluk Islam akhirnya disebut Dar al-Islam (Rumah Islam). Dari rumah inilah madrasah pertama kali ada. Al-Arqam juga ikut hijrah bersama dengan Rasulullah Saw ke Madinah. Beliau wafat pada tahun 675 masehi.
Pada awal penyebaran Islam, Rasulullah Saw masih menyebarkan agama secara sembunyi-sembunyi. Muhammad mulai merasa perlu mencari sebuah tempat bagi para pemeluk Islam dapat berkumpul bersama. Di tempat itu akan diajarkan kepada mereka tentang prinsip-prinsip Islam, membacakan ayat-ayat Al-Qur’an, menerangkan makna dan kandungannya, menjelaskan hukum-hukumnya dan mengajak mereka untuk melaksanakan dan mempraktikkannya. Pada akhirnya Rasulullah Saw  memilih sebuah rumah di bukit Shafa milik Abdillah al-Arqam bin Abi al-Arqam. Semua kegiatan itu dilakukan secara rahasia tanpa sepengetahuan siapa pun dari kalangan orang-orang kafir. Rumah milik Abu Abdillah al-Arqam bin Abi al-Arqam ini merupakan Madrasah pertama sepanjang sejarah Islam, tempat ilmu pengetahuan dan amal saleh diajarkan secara terpadu oleh sang guru pertama, yaitu Muhammad Rasulallah Saw. Beliau sendiri yang mengajar dan mengawasi proses pendidikan di sana. .
Mengapa Harus Rumah Al Arqam?
Rumahnya tersebut berada di pinggiran kota Mekkah, di Bukit Safa. Dan dapat kita bayangkan hiruk pikuknya kota Mekkah yang merupakan kota suci tujuan sentral peziarah agama samawi, sekaligus sebagai salah satu kota transit perdagangan kafilah-kafilah, tentunya kecil kemungkinan orang-orang akan memperhatikan siapa dan apa yang dilakukan orang lain.
Dengan fakta seperti ini, maka dengan menggunakan kediaman Arqam bin Abi Arqam tentunya akan sangat menguntungkan dalam menyebarkan dakwah awal secara sembunyi-sembunyi. Pergerakan yang dilakukan di rumahnya tidak akan mudah dicurigai oleh masyarakat, karena orang-orang tentunya tidak menyangka adanya keterkaitan Rasulullah dengan sahabat yang satu ini.
Justru disinilah letak kemisteriusan beliau dan sekaligus kelebihan yang dimilikinya, ketidak terkenalnya beliau memungkinkan orang orang Mekah tidak ambil pusing dan peduli dengan keadaan di rumah beliau, terlebih rumahnya yang jauh dari kota terletak dipinggiran.
Dan inilah kemudian menjadi pilihan Rasul untuk memilih tempat tersebut sebagai pusat dakwah awal Islam sungguh suatu strategi dakwah yang brilian.  
Mungkin ini merupakan sebuah ibrah yang dapat kita ambil dari sahabat Rasulullah yang satu ini. Ia merupakan salah satu orang penting dalam proses pergerakan dakwah, namun ia tidak memerlukan sebuah ketenaran. Perannya penting, namun tidak mengharapkan pujian. Seorang penyokong utama sebuah keberhasilan dakwah, namun riwayat hidupnya tidak tersampaikan oleh sejarah. Sungguh sebuah kerja besar yang ikhlas.
c.       Perencanaan Hijrah Ke Habasyah Dan Ke Madinah
Hijrah ke Habasyah ini dilakukan kaum muslim karena semakin meningkatnya intimidasi kaum Qurisy pada mereka. Setelah dua bulan tinggal di Habasyah, mereka kembali ke Mekah karena mengira intimidasi kaum Quraisy sudah jauh berkurang.
Namun, perkiraan itu salah. Sebab, pada kenyataannya kaum musyrik Mekah malah meningkatkan intimidasinya terhadap kaum muslim. Nabi Muhammad saw. kemudian menyarankan para sahabatnya untuk hijrah kembali ke Habasyah. Rencana hijrah kedua ini lebih berat karena pihak musuh sudah mencium rencana tersebut. Hal ini menyebabkan kaum muslim bergerak lebih cepat. Rombongan ini dipimpin oleh Ja’far bin Abi Thalib, dan sebanyak delapan puluh tiga pria dan tiga belas wanita berhasil berangkat hijrah ke Habasyah. Mereka tiba dengan selamat. Tetapi, tidak lama kemudian datang utusan dari Mekah yang dipimpin oleh ‘Amr bin al-‘Ash dan Abdullah bin Abi Rabi’ah. Mereka bermaksud meminta kaum muslim, sambil membawa banyak hadiah untuk Raja Najasyi. Terjadilah dialog antara Ja’far bin Abi Thalib dengan utusan dari kaum musyrik Mekah dihadapan Raja Najasyi. Namun, pada akhirnya kaum muslim berhasil meyakinkan Raja Najasyi akan kebenaran hijrah mereka, dan utusan kaum musyrik pun kembali ke Mekah tanpa hasil.
Rasulullah saw kemudian mengirim surat kepada Raja Najasyi dan menyerunya untuk masuk Islam. Raja Najasyi menerima seruan tersebut. Dan tatkala raja Najasyi ini meninggal dunia, Rasulullah sawpun melakukan shalat gaib untuknya.
Semakin lama tekanan dan intimidasi yang dialami oleh Rasulullah saw. dan kaum muslim semakin dahsyat. Hal inilah yang menyebabkan mereka hijrah Madinah. Jika hijrah ke Habasyah dilakukan secara kecil-kecilan oleh sejumlah sahabat, maka hijrah ke Madinah ini dilakukan dengan perbekalan dan persiapan yang matang dan memadai.
Namun, peristiwa yang sangat menentukan kesuksesan dakwah Islam, dan menjadi titik peralihan menuju kemenangan adalah ketika Rasulullah saw. dan para sahabatnya berhasil hijrah ke Madinah dengan selamat. Keberhasilan hijrah ini tidak terlepas dari beberapa peristiwa yang terjadi sebelumnya, yaitu proses sumpah setia atau bai’ah oleh beberapa orang dari Madinah. Peristiwa ini dikenal dengan Bai’atul ‘Aqabah al Ula wa Tsaniyah.
Bai’ah yang pertama dilakukan oleh sepuluh orang dari suku Khazraj dan dua orang dari suku Aus kepada Rasulullah saw. Bai’ah ini dilakukan ketika mereka ziarah ke Masjidil Haram. Peristiwa ini terjadi pada tahun ke-12 kenabian (tahun 621 M di bulan Juli) di Aqabah, Mina. Adapun teks bai’ahnya: “Kami tidak akan mempersekutukan Allah dengan apapun juga, tidak akan mencuri, tidak berzina, tidak membunuh anak-anak kami, tidak akan berdusta dengan menutup-nutupi apa yang ada di depan dan di belakang kami, dan tidak akan membantah perintah nabi dalam hal kebajikan” (HR. al-Bukhari)
Sedangkan bai’ah yang kedua terjadi pada musim haji tahun ke-13 kenabian (tahun 622, bulan Juni) di tempat yang sama. Adapun isinya adalah, “Kalian membai’atku dengan berjanji untuk patuh dan setia kepadaku, baik dalam keadaan sibuk maupun senggang, memberi infak baik dalam keadaan lapang rezeki maupun sempit, menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar, teguh membela agama Allah tanpa memperhatikan perbedaan ras, tidak takut dicela orang lain, tetap membantu dan membelaku ketika aku berada di tengah-tengah kalian sebagaimana kalian membela diri dan anak isteri kalian. Jika kalian melaksanakan semua ini, kalian akan memdapatkan surga.” (HR. Ahmad bin Hanbal)
Peristiwa yang lainnya adalah kesepakatan para pemuka suku Quraiys untuk menghabisi kaum muslim dan Rasulullah saw. di Darun Nadwah. Namun, kesepakatan ini diketahui oleh Rasulullah saw. melalui wahyu yang turun kepadanya, “Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan tipu daya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik Pembalas tipu daya.” (al-Anfal: 30)
Rasulullah saw. memerintahkan kepada kaum muslimin untuk hijrah ke Madinah setelah turunnya ayat ini. Para sahabat mulai meninggalkan Mekah secara bergelombang. Rasulullah saw. sendiri adalah orang yang terakhir pergi ke Madinah.
Rasulullah saw. menyiapkan hijrah ini secara matang. Sebab, target utama kaum musyrik Mekah adalah mengagalkan hijrah kaum muslimin. Rasulullah saw. menyiapkan bekal, kendaraan, penunjuk jalan, strategi, dan rute yang akan ditempuh. Beliau juga meminta Abu Bakar ash-Shiddiq menemaninya, dan seorang pemandu jalan yang bernama Abdullah bin Uraiqit.
Rasulullah saw. meninggalkan rumah pada malam hari tanggal 27 bulan Shafar tahun ke-13 kenabian atau bertepatan dengan tanggal 12 atau 13 September tahun 622 M. Perjalanan awal keluar Mekah jusru menempuh jalan yang berlawanan dengan jalan menuju Madinah. Hal ini dimaksudkan untuk mengecoh para pengejar. Gua Tsur adalah tempat tujuan mereka. Di gua ini mereka bermalam selama tiga hari. Kaum musyrik Quraisy sempat mengejar, tetapi keberadaan Rasulullah saw. dan Abu Bakar di dalam gua tidak diketahui mereka.
Rasulullah saw. akhirnya tiba di Yatsrib (Madinah) pada hari Jum’at tanggal 12 Rabiul Awwal di tahun yang sama. Beliau disambut penduduk Madinah dengan meriah. Al-Barra bin ‘Azib seorang sahabat dari kaum Anshor mengatakan, “Orang pertama dari para sahabat yang datang ke Yatsrib ialah Mus’ab bin Umair dan Ibnu Ummi Maktum. Kedua orang inilah yangmengajarkan Al Qur’an kepada kami. Kemudian menyusul Ammar bin Yasir, Sa’ad bin Abi Waqqash, dan Umar bin al-Khaththab bersama kafilah yang terdiri dari dua puluh orang. Setelah itu, barulah Rasulullah saw datang menyusul. Saya belum pernah melihat banyak orang bergembira seperti saat mereka menyambut kedatangan beliau, sehingga kaum wanita, anak-anak, dan para hamba sahaya perempuan bersorak-sorai meneriakkan, “Itulah dia, Rasulullah saw telah datang.” (HR. al-Bukhari).
Kedatangan Rasulullah saw di kota Yatsrib ternyata membawa perubahan yang sangat besar bagi perkembangan Islam. Paling tidak, beliau berhasil menjadi juru damai bagi dua suku asli penduduk Yatsrib, yaitu suku Aus dan Khzaraj. Rasulullah saw. mempersaudarakan, menyatukan, dan mendamaikan mereka dengan ikatan iman dan Islam serta persaudaraan Islamiyah. Sehingga terhapuslah di hati mereka militansi kesukuan yang sempit. Sementara itu, para pendatang Muhajirin juga mulai mewarnai aktivitas di kota itu dengan perdagangan. Tak lama kemudian, kaum Muhajirin mampu menggeser dominasi ekonomi dan perdagangan kaum Yahudi.
Rasulullah saw. kemudian meletakkan tiga hal yang menjadi tonggak pembentukan masyarakat baru, yaitu:
1. Memperkokoh hubungan kaum muslim dan Tuhannya dengan membangun masjid;
2. Memperkokoh hubungan intern umat Islam dengan mempersaudarakan kaum pendatang Muhajirin dari Mekah dengan penduduk asli Madinah, yaitu kaum Anshor;
3. Mengatur hubungan umat Islam dengan orang-orang diluar Islam, baik yang ada di dalam maupun di sekitar kota dengan cara mengadakan perjanjian perdamaian.
Melalui tiga hal di atas, Rasulullah saw. berhasil membangun masyarakat ideal. Masyarakat ini terwujud dalam suatu negara, yang beliau beri nama Madinah, artinya “kota” atau “tempat peradaban”. Di dalam masyarakat itu, Rasulullah saw. secara bertahap menerapkan sistem yang dapat melindungi mereka dengan kehidupan yang damai dan makmur. Pada akhirnya, disebabkan melihat suasana damai itu, banyak penduduk kota Madinah dan sekitarnya yang menyatakan masuk Islam.
Setelah terbentuknya negara Madinah, Islam mulai menguatkan eksistensinya di wilayah sekitar kota Madinah, sampai kota Mekah pun dapat dibebaskan. Dengan dibebaskannya Mekah tidak ada lagi hijrah ke Madinah. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah saw, “Tidak ada hijrah setelah pembebasan (Mekah).” (HR. al-Bukhari)













BAB III
PENUTUP

A.           Kesimpulan
Dengan demikian, pendidikan Islam seharusnya bertujuan mencapai pertumbuhan yang seimbang dalam kepribadian manusia  secara total melalui pelatihan spiritual, kecerdasan, rasio, perasaan, dan panca indera. Oleh karena itu, pendidikan Islam seharusnya pelayanan bagi pertumbuhan bagi manusia  dalam segala aspeknya yang meliputi aspek spiritual, intelektual, imajinasi, fisik, ilmiah, linguistik, baik secara individu, maupun secara kolektif dan memotivasi semua aspek tersebut kepada kebaikan dan pencapaian kesempurnaan. Tujuan akhir pendidikan bertumpu pada terealisasinya ketundukan kepada Allah baik dalam level individu, komunitas, dan manusia secara luas.
Rasulullah Saw telah memperlihatkan akhlak yang mulia sepanjang hidupnya. Muhammad Athiyah al Abrasyi mengemukakan bahwa Nabi Muhammad Saw adalah  yang paling baik tingkah lakunya, pemuda yang paling bersih, manusia yang paling zuhud dalam hidupnya, hakim yang paling adil dalam memutuskan perkara, prajurit yang paling berani dalam membela kebenaran, ikutan yang terbaik bagi orang-orang saleh dan para pendidik. Pribadi beliau merupakan presentasi akhlak yang sesuai dengan al Qur’an.
B.      Saran
Mungkin inilah yang diwacanakan pada penulisan Makalah ini meskipun penulisan ini jauh dari sempurna. Masih banyak kesalahan dari penulisan makalah ini, karena kami manusia yang adalah tempat salah dan dosa: dalam hadits “al insanu minal khotto’ wannisa’, dan kami juga butuh saran/ kritikan dari kalian semua, agar bisa menjadi motivasi untuk masa depan yang lebih baik

DAFTAR PUSTAKA
Engineer ,A. Ali . 1999. Asal usul dan perkembangan islam. Yogyakarta : Pustaka pelajar
Hasa ibrahim hasan2001. Sejarah dan kebudayaan islam 1. Jakartakalam mulia
Jaih mubarok. 2008. Sejarah peradaban islam. Bandung: pustaka islamika
Prof. Dr. H. Samsul Nizar, M. Ag. Sejarah Pendidikan Islam: Menelusuri Jejak Sejarah Era Rasulullah Sampai Indonesia, Prenada Media Group, Jakarta, 1999.
Http/.www. suara-islam.com
Kampus pejuang.com


1 komentar: